2/25/2012

Lobster Raksasa Tertangkap Jaring Nelayan

Seekor lobster raksasa seberat 27 pon (12 Kilogram) tertangkap di lepas pantai Maine, Amerika Serikat (AS). Seorang nelayan pencari udang, Robert Malone, menangkap binatang crustacea raksasa tersebut di jaringnya pada Jumat (24/2).

Malone kemudian tidak memasaknya, namun menyerahkanya ke Aquarium Negara di Boothbay Harbor. Direktur Aquarium, Aimee Hayden-Rodriques mengatakan, Malone menyerahkannya kepada Departemen Sumber Daya Kelautan untuk dilestarikan.

Lobster raksasa ini memiliki panjang 40 inci atau 101 cm. Karena ukurangnya dan lokasi tertangkapnya di Rockland, Lobster ini dijuluki Rocky, Menurut Hayden-Rodriquez, nama itu juga disamakan seperti petinju, karena capitnya yang cukup besar.

Lobster ini termasuk salah satu tangkapan terbesar yang pernah dibawa ke akuarium. "Melebihi yang lobster biasanya hanya memiliki berat 1 hingga 2 kilogram," ujar Hayden-Rodriquez. Lobster terbesar yang pernah dicatat, dan berhasil ditangkap berada di Nova Scotia dengan berat lebih dari 40 pound (18 kilogram).

Hayden-Rodriquez mengatakan Rocky akan segera dilepas kembali ke laut karena alam liar lebih baik bagi lobster tersebut bila dibandingkan hidup di aqurium.

Jokowi: Target Produksi 'Esemka' 300 Unit Per Bulan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Walikota Solo, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi mengatakan target produksi mobil Esemka diperkirakan hingga 300 buah per bulan.

"Kami membuat target produksi untuk mobil Esemka sebanyak 200 hingga 300 buah per bulan, karena niatnya memang tidak diproduksi dengan manufaktur yang besar," kata Jokowi pada media di Jakarta, Sabtu (25/2).

Jokowi menegaskan bahwa mobil Esemka buah karya siswa SMK Negeri 2 Solo tersebut bukanlah proyek ambisius yang berorientasi pada bisnis semata.

"Mobil Esemka ini adalah mobil rakyat yang dibuat berdasarkan industri rakyat bukan korporat besar yang memproduksi dalam jumlah besar," kata dia.

Untuk memenuhi target produksi tersebut, Jokowi menjelaskan industri tersebut tidak membutuhkan dana besar.

"Untuk biaya gedung dan alat-alat hanya butuh dana Rp55 miliar sedangkan untuk modal kerja butuh Rp40 miliar, dengan dana itu, produksi sudah bisa berjalan," kata dia.

Namun demikian, Jokowi menyatakan Esemka tetap perlu suntikan dana dari pemerintah pusat karena pemerintah kota (pemkot) Solo tidak memiliki dana cukup.

"Kami butuh injeksi dana dari pusat, karena pemkot tidak bisa menutup semua dana itu, tapi kalau pemerintah tidak bisa memberi dana, maka kami terpaksa lari ke investor," kata dia.

Jokowi mengaku sudah ada tiga investor yang menyatakan bersedia untuk mendanai produksi massal mobil Esemka. "Sudah ada tiga investor lokal, dua dari nasional dan satu dari koperasi," kata dia.

Jokowi menambahkan, Esemka harus ditangani oleh anak-anak bangsa tanpa campur tangan investor asing karena mobil Esemka merupakan "brand" atau citra Indonesia. "Kita ingin membangun 'brand' Indonesia dan 'principal' Indonesia," kata dia.

Lebih lanjut Jokowi mengatakan, pada tahap awal, Esemka akan memproduksi tiga jenis mobil yaitu SUV (Sport Utility Vehicle), double cabin, dan mini cart. "Tapi kami akan fokus ke SUV dulu, harga pasar untuk SUV Rp95 juta," kata dia.